Kamis, 21 Mei 2015

MAKALAH KEWIRAUSAHAAN MOTIVASI USAHA JAMUR TIRAM “DWIPA JAMUR”




MAKALAH KEWIRAUSAHAAN
MOTIVASI USAHA JAMUR TIRAM
“DWIPA JAMUR”


OLEH:
WIWIK WIDIYANTI
1351800066
2B
PEND. BAHASA INGGRIS
Dosen pengampu: Meidawati Suswandari, S.Pd., M.Pd

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSATARA SUKOHARJO




KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan YME yang telah memberikan nikmat dan karunia kepada kami sehingga kami senantiasa dapat menyelesaikan makalah Kewirausahaan tentang Motivasi Usaha Jamur Tiram “Dwipa Jamur” ini tepat pada waktunya.
Makalah Kewirausahaan mengenai Motivasi Usaha Jamur Tiram “Dwipa Jamur” ini kami susun guna memenuhi tugas mata kuliah Kewirausahaan yang diberikan oleh Ibu Meidawati Suswandari, S.Pd., M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Kewirausahaan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Meidawati Suswandari, S.Pd., M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Kewirausahaan yang telah memberikan pengajaran kepada kami, serta kepada teman-teman yang membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Makalah ini disajikan terutama kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah Kewirausahaan baik yang ada di luar maupun di dalam lingkup Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Makalah ini juga dapat digunakan sebagai referensi tambahan bagi kalangan pelajar dan mahasiswa.
Namun, makalah Kewirausahaan tentang Motivasi Usaha Jamur Tiram “Dwipa Jamur” ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan makalah ini.


Sukoharjo, Juni 2013


DARTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................. 1
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................ 3
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................... 3
2.1 Sikap Mental Terhadap Jamur Tiram................................................................... 5
2.2 Model Kepemimpinan Usaha Jamur Tiram.........................................................  5
2.3 Management Bisnis Jamur Tiram......................................................................... 9
2.4 Etika Bisnis Jamur Tiram.................................................................................... 12
2.5 Tekhnik Negosiasi Usaha Jamur Tiram.............................................................. 14
2.6 Studi Kelayakan Bisnis Jamur Tiram................................................................. 16
BAB III PENUTUP.............................................................................................................. 19
3.1 Kesimpulan......................................................................................................... 19
3.2 Saran ................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 22


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
            Budidaya jamur tiram memiliki prospek ekonomi yang  baik. Jamur tiram merupakan salah satu produk komersial dan dapat dikembangkan dengan teknik yang sederhana. Selain itu, konsumsi masyarakat akan jamur tiram cukup tinggi, sehingga produksi jamur tiram mutlak diperlukan dalam skala besar.
Berdasarkan hal inilah, Kelompok Tani Dwipa Jamur wilayah Jenawi berusaha mengembangkan Produksi Baglog Jamur Tiram agar dapat menjawab atau menjadi solusi akan permasalahan ekonomi. Selain itu melihat pangsa pasar saat ini Jamur Tiram mempunyai peluang yang baik. Kelompok Tani Dwipa Jamur mengambil peluang ini sebagai sarana untuk mengembangkan roda ekonomi.

1.2 RUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan uraian Latar Belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu sebagai berikut;
1.      Bagaimana sikap mental terhadap Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur” ?
2.      Bagaimana model kepemimpinan dari usaha Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur” ?
3.      Bagaimana manajemen bisnis dari Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur” ?
4.      Bagaimana etika bisnis dari usaha Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur” ?
5.      Bagaimana teknik negosiasi dari usaha Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur” ?
6.      Bagaimana studi kelayakan bisnis terhadap Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur” ?

1.3 TUJUAN PENULISAN
            Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1.      Mengetahui sikap mental terhadap Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur”
2.      Mengetahui model kepemimpinan usaha Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur”
3.      Mengetahui manajemen bisnis Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur”
4.      Mengetahuin etika bisnis Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur”
5.      Mengetahui teknik negoisasi Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur”
6.      Mengetahui studi kelayakan bisnis Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur”


BAB 11
PEMBAHASAN

2.1  SIKAP MENTAL TERHADAP BUDIDAYA JAMUR TIRAM “DWIPA JAMUR”
Sikap mental yang di maksud disini adalah sesuatu yang berhubungan dengan cirikhas, watak, perilaku tabiat, sikap seseorang (wirausaha) terhadap perjuangan hidup untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin.
Menurut Geoffrey G. Meredith dalam bukunya “Kewirausahaan”, ciri-ciri profil wirausaha adalah sebagai berikut :
Ciri-ciri :
·         Percaya diri
·         Berorientasikan tugas dan hasil
·         Pengambil resiko
·         Kepemimpinan
·         Keorisinilan
·         Berorientasi ke masa depan
Watak :
·         Keyakinan, ketidaktergantungan, induviduali-tas, optimisme.
·         Kebutuhan akan prestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energitic, inisiatif.
·         Kemampuan mengambil resiko, suka pada tantangan.
·         Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain, menanggapi saran saran dan kritik.
·         Inovatif dan kreatif, fleksibel, punya banyak sumber, serba bisa, mengetahui banyak.
·         Pandangan ke depan, perseptis.
            Penerapan dalam Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur”  sebagai seorang wirausaha khususnya bagi seorang pemula yang ingin melakukan usaha Budidaya Jamur Tiram harus memiliki keyakinan dan optimis terlebih dahulu untuk melakukan usaha tersebut. Kemudian berorientasi terhadap hasil. Budidaya jamur ini tergolong sederhana. Jamur tiram biasanya dipeliharan dengan media tanam serbuk gergaji steril yang dikemas dalam kantung plastik.
            Jamur tiram dapat ditumbuhkan pada media kompos serbuk gergaji kayu. Miselium dan tubuh buahnya tumbuh dan berkembang baik pada suhu 25-39 ?C. Agar bakal tubuh buah terbentuk biasanya dibutuhkan kejutan fisik seperti perubahan suhu, cahaya, tingkat CO2, kelembaban relatif udara dan aerasi. Suhu substrat yang tinggi dapat memicu pertumbuhan mikroflora termofilik. Mikroorganisme termofilik tumbuh pada kisaran suhu 30-55oC, ketika tumbuh mikroorganisme tersebut menghasilkan panas yang lebih pada substrat sehingga dapat mematikan miselium jamur yang dibudidayakan. Substrat sebaiknya memiliki konduktivitas panas yang rendah, oleh karena itu susunan tinggi kompos kurang dari 25 cm dan log jamur tidak lebih dari 25 kg. Selama pembentukan tubuh buah, beberapa jamur sensitif terhadap tingkat CO2 yang tinggi, sehingga tubuh buah yang terbentuk akan memiliki tangkai yang panjang dan tudung yang kecil. Kisaran konsentrasi CO2 yang baik untuk pertumbuhan galur tertentu dari P. ostreatus antara 550-700 ppm. Faktor cahaya sangat menentukan pembentukan tubuh buah. Beberapa jamur akan membentuk tubuh buah jika kekurangan cahaya. Untuk pembentukan tubuh buahnya Pleurotusspp. diperlukan 8 jam penyinaran cahaya, namun Pleurotus yang tumbuh tanpa cahaya akan membentuk struktur seperti koral dengan banyak tangkai yang bercabang.
Bakal tubuh buah atau primordia dari basidiomiset adalah gumpalan kecil yang terdiri dari kumpulan miselia yang akan berkembang menjadi tubuh buah. Diameter tubuh buah sekitar 1 mm. Primordia berkembang dan pada tubuh buah muda terlihat bagian-bagian tubuh buah seperti tudung dan tangkai yang terletak tidak di tengah tudung. Pada permukaan bawah tudung dari tubuh buah muda terdapat bilah-bilah (lamela). Lamela tubuh menurun dan melekat pada tangkai. Pada lamela terdapat sel-sel pembentuk spora (basidium), yang berisi basidiospora. Basidiospora biasanya dibentuk pada saat tubuh buah dewasa mengalami kematangan. Selama tepi tudung masih berlipat-lipat, tubuh buah dikatakan belum dewasa. Pada saat tepi tudung meregang penuh tubuh buah mencapai fase dewasa dan dapat dipanen. Tubuh buah yang matang biasanya rapuh dan spora-spora dapat dilepaskan.
2.2  MODEL KEPEMIMPINAN DARI USAHA BUDIDAYA JAMUR TIRAM “DWIPA JAMUR”

Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu membawa organisasi sesuai dengan asas managemen organisasi dan membawa kesejahteraan karyawannya. Dari usaha Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur” seorang pemimpin mampu mengayomi para karyawan dan memberikan upah yang sesuai dengan kerja keras karyawan.
Karakteristik Seorang Pemimpin;
  1. Lebih banyak mendengarkan dan lebih sedikit berbicara.
  2. Lebih banyak bertanyan dan memberi sedikit menjawab.
  3. Membantu belajar dari kesalahan dan tidak takut resiko.
  4. Memberi pemecahan permasalahan orang lain daripada menyelesaikan masalah untuk orang lain.
e.       Berbagi informasi daripada menyimpan.
Dalam bisnis, pemimpin memusatkan tenaga dan pikiran serta perhatiannya pada bidang usaha. Perusahaan yang bijaksana berfokus pada pepatah kuno yaitu “Jika anda mengejar dua ekor kambing sekaligus, maka keduanya akan kabur.”  Begitu juga dalam bisnis, pilihlah celah bisnis yang dapat memenuhi kebutuhan mereka karena jika anda bisa memilih sasaran bisnis yang lebih baik dari pesaing-pesaing anda, anda akan jadi pemenang. (Jackie, Miranty&Yanty, 2006: 56-57)
Tipe-tipe Kepemimpinan dalam Berorganisasi:
·         Tipe Otokratik
Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”,
·         Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masyarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan.
·         Tipe Kharismatik
Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.
·         Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi
·         Tipe Demokratik
Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
·         Tipe Administratif
Pemimpin tipe administrative ialah pemimpin yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif sehingga diharapkan muncul perkembangan teknis, manajemen modern dan perkembangan sosial.
Kepemimpinan yang di terapkan dalam Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur” adalah Tipe Administratif dimana seorang pemimpin mampu menyelenggarakan tugas administratisi dengan membuat perincin2 anggaran yang akan dekeluarkan. Sehingga apa yang di rencanakan tepat pada sasaran.


2.3  MANAJEMEN BISNIS DARI USAHA BUDIDAYA JAMUR TIRAM “DWIPA JAMUR”

Manajemen Berbisnis, Kegiatan Melaksanakan & mengatur  jalannya pelaksanaan dalam suatu wirausaha.
Dalam mencapai keberhasilan berbisnis, ada kalanya perusahaan memiliki beberapa kekuatan dan kelemahan. Sebagai titik keseimbangan antara kekuatan dan kelemahan didasari oleh 2 faktor dari fungsi manajemen, yang meliputi:
1.  Faktor operasional, meliputi:
·         Pemasaran, yaitu kemampuan perusahaan menyediakan produk dengan jumlah yang tepat yang diharapkan konsumen. Dari usaha Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur” mode pemasaran yang dilakukan bisa juga menjual baglog jamur, jamur tiramnya sendiri hingga bibit dari jamur tiram, sesuai permintaan konsumen.
·         Produksi, yaitu usaha yang dilakukan berupa merencanakan, membangun, proses, dan pengawasan. Dalam melaksanakan Budidaya Jamur Tiram ada beberapa proses dan kegiatan yang dilaksanakan antara lain:
Ø  Persiapan Bahan
      Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa.
Ø  Pengayakan
      Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat keseragaman yang kurang baik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan miselia kurang merata dan kurang baik. Mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji perlu di ayak. Ukuran ayakan sama dengan untuk mengayak pasir (ram ayam), pengayakan harus mempergunakan masker karena dalam serbuk gergaji banyak tercampur debu dan pasir
Ø  Pencampuran
      Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 – 60 % atau bila kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini menandakan kadar air sudah cukup.
Ø  Pengomposan
      Pengomposan adalah proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan cara membumbun campuran serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan plastic
Ø  Pembungkusan (Pembuatan Baglog)
      Pembungkusan menggunakan plastik polipropilen (PP) dengan ukuran yang dibutuhkan. Cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam plastik kemudian dipukul/ditumbuk sampai padat dengan botol atau menggunakan filler (alat pemadat) kemudian disimpan.
Ø  Sterilisasi
      Sterilisasi dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer yang bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 90 – 100 derajat C selama 12 jam.
Ø  Inokulasi (Pemberian Bibit)
      Inokulasi adalah kegiatan memasukan bibit jamur ke dalam media jamur yang telah disterilisasi. Baglog ditiriskan selama 1 malam setelah sterilisasi, kemudian kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan/sendok bibit sekitar + 3 sendok makan kemudian diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas. Bibit Jamur Tiram yang baik yaitu:
- Varitas unggul
- Umur bibit optimal 45 – 60 hari
- Warna bibit merata
- Tidak terkontaminasi
Ø  Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Jamur Tiram
      Inkubasi Jamur Tiram dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40 – 60 hari.
Ø  Panen Jamur Tiram
      Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan ini biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya dan mempermudah pemasaran. (Galeriukm).

·         Personalia, yaitu bagaimana prosedur perekrutan karyawan (tenaga kerja). Di dalam usaha Budidaya Jamur “Dwipa Jamur” memiliki susunan pengurus sebagai berikut;
Direktur                                   : Indro Ristanto
General Manager                   : Jari Purwanto
Sekretaris                                : Kus
Bendahara                              : Jumadi A
Material Division                    : Pur
Production Division                 : Miko
Marketing                               : Jumadi B
Public Relation                        : Parjo
Anggota                                   :
1.      Joko
2.      Sarino
3.      Supri
4.      Mujianto
5.      Wayan

·         Keuangan, yaitu ukuran investasi yang diberlakukan di perusahaan.
·         Administrasi dan akuntansi, yaitu sudah adakah penggunaan sistem administrasi dan analisis kinerja yang tepat.
2.  Faktor managerial, meliputi:
·         Perencanaan, yaitu berbicara tentang tujuan, strategi, taktik yang dilakukan oleh suatu perusahaan.
·         Organisasi, yaitu wewenang tanggung jawab dan pelaporan yang jelas.
·         Pengarahan, yaitu pemberian sistem komunikasi yang baik dalam pengelolaan perusahaan.
·         Koordinasi, yaitu apakah sistem yang sudah dipergunakan sudah sesuai dengan karakteristik organisai.
·         Pengawasan, yaitu melakukan pengukuran pada kinerja untuk diperbandingkan (Sukanto, 1990: 6-8).
Disisi lain dikemukakan oleh Flippo (2002: 5-7) bahwa dalam menjalankan pekerjaan seharusnya organisasi bisnis atau perusahaan memperhatikan fungsi manajemen dan fungsi operasional ada dua, antara lain:
1.  Fungsi manajemen, terdiri dari:
a.       Perencanaan (Planning)
Perencanaan mempunyai arti penentuan mengenai program tenaga kerja yang akan mendukung pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
b.      Pengorganisasian (Organizing)
Organisasi dibentuk dengan merancang struktur hubungan yang mengaitkan antara pekerjaan, karyawan dan faktor-faktor fisik sehingga dapat terjalin kerja sama satu dengan yang lainnya.
c.       Pengarahan (Directing)
Pengarahan terdiri dari fungsi staffing dan leading. Fungsi staffing adalah menempatkan orang-orang dalam struktur organisasi, sedangkan fungsi leading dilakukan pengarahan SDM agar karyawan bekerja sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
d.      Pengawasan (Controlling)
Adanya fungsi manajerial yang mengatur aktivitas-aktivitas agar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan oleh organisasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, bila terjadi penyimpangan dapat diketahui dan segera dilakukan perbaikan.
2.  Fungsi operasional, terdiri dari:
a.       Pengadaan (Procurement)
Usaha untuk memperoleh sejumlah tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan, terutama yang berhubungan dengan penentuan kebutuhan tenaga kerja, penarikan,seleksi, orientasi dan penempatan.
b.      Pengembangan (Development)
Usaha untuk meningkatkan keahlian karyawan melalui program pendidikan dan latihan yang tepat agar karyawan atau pegawai dapat melakukan tugasnya dengan baik. Aktivitas ini penting dan akan terus berkembang karena adanya perubahan teknologi, penyesuaian dan meningkatnya kesulitan tugas manajer.
c.       Kompensasi (Compensation)
Fungsi kompensasi diartikan sebagai usaha untuk memberikan balas jasa atau imbalan yang memadai kepada pegawai sesuai dengan konstribusi yang telah disumbangkan kepada perusahaan atau organisasi.



2.4  ETIKA BISNIS DALAM USAHA BUDIDAYA JAMUR TIRAM “DWIPA JAMUR”

Etika Bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat. Etika bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pemimpin dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, dan masyarakat.
Di bawah ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berbisnis yang mengedepankan nilai etis :
  1. Berperilaku jujur dalam menjalankan aktivitas bisnis
  2. Menaati aturan nilai
  3. Walk the talk yaitu senantiasa konsisten antara apa yang dilakukan dengan apa yang diucapkan.
Prinsip-prinsip Etika Bisnis
  1. Prinsip Otonomi
                 Prinsip otonomi adalah perusahaan secara bebas memiliki wewenang sesuai dengan bidang yang dilakukan dan pelaksanaannya dengan visi dan misi yang dimilikinya. Kebijakan yang diambil perusahaan harus diarahkan untuk pengembangan visi dan misi perusahaan yang berorientasi pada kemakmuran dan kesejahteraan karyawan dan komunitasnya. 
2. Prinsip Kejujuran
                 Kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam mendukung keberhasilan perusahaan. Kejujuran harus diarahkan pada semua pihak, baik internal maupun eksternal perusahaan. Jika prinsip kejujuran ini dapat dipegang teguh oleh perusahaan, maka akan dapat meningkatkan kepercayaan dari lingkungan perusahaan tersebut.
3. Prinsip Tidak Beniat Jahat
                 Prinsip ini ada hubungan erat dengan prinsip kejujuran. Penerapan prinsip kejujuran yang ketat akan mampu meredam niat jahat perusahaan itu.
4. Prinsip Keadilan
                 Perusahaan harus bersikap adil kepada pihak-pihak yang terkait dengan sistem bisnis. Contohnya, upah yang adil kepada karywan sesuai kontribusinya, pelayanan yang sama kepada konsumen, dan lain-lain.
5. Prinsip Hormat Pada Diri Sendiri
                 Perlunya menjaga citra baik perusahaan tersebut melalui prinsip kejujuran, tidak berniat jahat dan prinsip keadilan.


2.5  TEKNIK NEGOSIASI BUDIDAYA JAMUR TIRAM “DWIPA JAMUR”

Negosiasi adalah suatu bentuk pertemuan bisnis antara dua pihak atau lebih untuk mencapai suatu kesepakatan bisnis.
Manfaat dari negosiasi bisnis adalah;
ü  Dengan terjalinnya kerjasama antar kedua belah pihak maka tercipta sebuah transaksi bisnis.
ü  Menghasilkan harga yang lebih baik dan efisien yang memberikan keuntungan yang lebih besar
Komponen komunikasi dan penerapannya dalam area bisnis
  1. Komunikator
     Memulai bisnis berawal dari seorang penjual yang menawarkan barang atau jasa. Penjual merupakan contoh dari komunikator.
  1. Pesan
     Pesan yang disampaikan dalam bisnis yaitu barang atau jasa.
  1. Media
     Alat perantara penyampaian barang atau jasa bisa melalui media cetak dan elektronik.
  1. Komunikan
     Barang atau jasa yang disampaikan akan diterima oleh pihak komunikan atau pembeli.
Dalam berkomunikasi dengan klien atau lawan bisnis, seorang negosiator harus memiliki permainan dasar dalam berkomunikasi, antara lain :
  1. Pepsodent (mulai dengan senyum)
  2. Blankon (ramah tamah dan sopan santun)
  3. Mic (berbicara dengan intonasi dan volume jelas )
  4. Medical reps (tunjukkan ide yang bermanfaat)
  5. Tv drama (kata-kata yang menarik)
  6. Kusir (menggunakan kalimat sopan dan pelan saat membantah)
  7. Headphone (menyimak, tidak memotong permbicaraan dan memelihara kontak mata)

Strategi dalam negosiasi bisnis
  1. Win-win
     Menguntungkan kedua belah pihak.
  1. Win-Lose
     Pihak yang berselisih ingin mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya.
  1. Lose-lose
     Dampak dari pemilihan strategi negosiasi yang tidak tepat sehingga menimbulkan kegagalan untuk keduabelah pihak.
  1. Lose-win
      Salah satu pihak sengaja mengalah .
Strategi negosiasi yang di lakukan oleh Dwipa Jamur ini adalah strategi Win-Win yaitu menguntungkan kedua belah pihak. Teknik negosiasi yang diterapkan dalam Usaha Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur” ini bisa melalui telepon / SMS ke nomor Contact Person : Jari Purwanto 0857-2561-0203, atau Indro Ristanto 0878-3661-4969. Atau juga bisa langsung mengunjungi tempat Budidaya Jamur Tiram “Dwipa Jamur” yang terletak di Rumah Mbah Wiro, Dukuh Demping, Desa Anggrasmanis, Kec. Jenawi Kab. Karanganyar, untuk negosiasi. Lalu tidak lupa menanyakan spesifikasi, jumlah tersedia, harga, pengiriman dan bea. Jika melalui telepone atau SMS maka tidak lupa juga untuk meminta alamat lengkap tujuan pengiriman produk. Dengan begitu produk akan segera dikirim menggunakan jasa pengiriman barang ke alamat konsumen.


2.6  STUDI KELAYAKAN BISNIS BUDIDAYA JAMUR TIRAM “DWIPA JAMUR”

Studi kelayakan bisnis adalah suatu penelitian tentang layak atau tidaknya suatu usaha dilakukan dengan menguntungkan secara terus menerus.
Secara umum kajian tentang kelayakan usaha terdiri dari 3 hal yaitu:
ü  Aspek yang dikaji
ü  Mutu pengkajian
ü  Jangkauan pengkajian
Biasanya dalam merintis suatu usaha membutuhkan proses atau tahapan-tahapan sebagai berikut:
  1. Tahapan identifikasi
  2. Tahapan seleksi pendahuluan
  3. Tahap pengkajian atau kelayakan usaha
  4. Tahap penilaian
  5. Tahapa pelaksanaan
  6. Tahap evaluasi

Teknikal studi kelayakan usaha meliputi:
  1. Pembentukan panitia kerja
  2. Pengumpulan data dan informasi
  3. Analisis data dan informasi, meliputi:
                        a. Analisis aspek dasar
                        b. Analisis aspek yuridis
                        c. Analisis aspek manajemen
                        d. Analisis aspek teknis
                        e. Analisis aspek finansial
                        f. Analisis aspek sosial ekonomi
                        g. Analisis aspek manajemen
                        h. Analisis dampak lingkungan

Jamur tiram putih dengan nama latin Pleurotus ostreatus adalah jamur pangan yang dapat dijadikan alternatif makanan sehat yang layak konsumsi. Jamur tiram juga dapat menjadi olahan makanan seperti bakso, oseng-oseng, maupun jamur yang crispy. jamur tiram memiliki nilai gizi tinggi. Mengandung protein 19 – 35 % dari berat kering dan karbohidrat 46,6 – 81,8 %. Selain itu mengandung  tiamin atau vit. B1, riboflavin atau vit. B2, niasin, biotin juga beberapa garam mineral dari unsur-unsur Ca, P, Fe, Na, dan K dengan komposisi seimbang. Jika dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemaknya 25,0 gram, namun karbohidratnya 0,0 gram, maka kandungan gizi jamur lebih lengkap, hingga tidak berlebihan jika dikatakan jamur merupakan bahan pangan alternatif masa depan.
Jamur tiram juga bermanfaat dalam pengobatan, seperti :
           Dapat menurunkan tingkat kolesterol dalam darah.
          Memiliki kandungan serat mulai 7,4 % sampai 24,6% yang sangat baik bagi pencernaan.
           Antitumor dan antioksidan.
Jamur tiram tumbuh pada serbuk kayu, khususnya yang memiliki serat lunak seperti jenis kayu albasiah. Suhu optimum untuk pertumbuhan tubuh buah jamur tiram adalah 20 – 28°C, dengan kelembaban 80 – 90 %. Pertumbuhan jamur tiram membutuhkan cahaya matahari tidak langsung, aliran udara yang baik, dan tempat yang bersih. (http://organikganesha.wordpress.com)



BAB 111
PENUTUP


3.1  KESIMPULAN
Jenis usaha yang akan didirikan adalah Budidaya Jamur Tiram yang nilai gizinya sangat baik untuk masyarakat. Peluang usaha ini dapat dilihat dari kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi makanan yang bernilai gizi tinggi serta semakin meluasnya pasar jamur di indonesia.
Dengan analisis sasaran pemasaran yang jelas, proses produksi yang tidak rumit serta pembuatan badan hukum usaha, maka rencana  usaha ini bisa dianggap menembus pasar produksi bahkan sampai ke pasar internasional.
Keuntungan ekonomis dan nilai gizi merupakan faktor utama yang dicari baik dari pihak penulis selaku produsen maupun bagi konsumen secara umum. Namun dengan perkiraan keuntungan finansial yang penulis dapatkan seperti dijelaskan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan usaha ini dapat memenuhi kebutuhan usaha itu sendiri serta menambah perhasilan bagi produsen sehingga usaha bududaya jamur tiram putih ini dapat dikatakan layak untuk dijalankan.



3.2  SARAN


Untuk memulai Usaha Budi Daya Jamur Tiram, kita  harus mengetahui pengenalan jamur hingga pemasaran, serta bahan apa saja yang akan di pergunakan, lalu bagaimana proses pembuatannya serta harus memperhitungkan modal yang akan di pergunakan pula. Dan jangan lupa harus menggunakan aturan-aturan bisnis yang sesuai dan tidak melanggar Undang-Undang.


DAFTAR PUSTAKA


http://promosidanpemasaranyangberetikatedyjindol.html (diambil pada tanggal 6 Juni,        Pukul 13.00 WIB)
http:// handyleonardoetikabisnis.blogspot.com/2012/09/pengertian-etika-etika-bisnis-dan.html (diambil pada tanggal 10 Juni, pukul  22.00 WIB)
http:// itha-imu.blogspot.com/2011/03/kepemimpinan-dalam-kewirausahaan.html (diambil pada tanggal 10 Juni, pukul  22.00 WIB)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar